Minggu, 17 April 2011

Materi UTS Tauhid

KONSEP DASAR
Pengertian Tauhid
Secara Bahasa:  kata tauhid berasal dari wahhada - yuwahhidu - tauhidan : mengesakan, menunggalkan



menjadikan sesuatu (hanya) satu. Dialah sebagai satu-satunya

Secara Istilah: Tauhid adalah bidang ilmu yang membahas tentang keesaan Tuhan, baik dalam eksistensinya, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya.

Objek  Ilmu Tauhid
Masalah Ketuhanan (Wujudullah , Sifatullah, Af’’alullah)
Masalah-masalah kemanusiaan (eksistensi manusia, perbuatan manusia, nasib/takdir dan ikhtiar, dll.)
Masalah hubungan manusia dengan Tuhan (keimanan, peribadatan, syirik, dll.)
Sejarah dan Pemikiran Kalam (Klasik hingga Modern)

Macam-macam Tauhid
Tauhid Uluhiyyah: keyakinan mengesakan Tuhan dalam berketuhanan Hanya Allah yang berhak disembah, diperhamba, dijadikan tempat mengabdi.
Tauhid Rububiyyah : keyakinan mengesakan Tuhan dalam hal penciptaan, pengelolaan, pemberian terhadap makhluk (dunia da seisinya)
Hanya Allah satu-satunya al-khaliq/pencipta makhluk (manusia, alam, dsb).
Allah sebagai satu-satunya pemelihara (al-rabb), pemberi rizki
Allah satu-satunya yang memiliki dan menguasai alam (al-malik).
Tauhid Ubudiyyah ; keyakinan mengesakan Tuhan dalam hal peribadatan, hanya kepada Allah manusia patuh dalam ibadah, juga kepatuhan terhadap aturan/ hukum Allah, tidak kepada selain-Nya .
Konsekuensi Bertauhid
Bertauhid Uluhiyyah:
-> Menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan, tempat bergantung, memohon (doa)  Q.S. Al-Ihlas
-> Tidak melakukan perbuatan yang mengarah kepada syirik
->
Bertauhid Rububiyyah:
-> Menjadikan Allah sebagai satu-satunya pencipta seluruh makhluk, tempat berlindung, meminta pertolongan,
-> Menjadikan Allah sebagai pengatur, pemelihara alam
-> berkomitmen dalan kalimat irja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un)
        ->  Segala sesuatu adalah milik Allah, berasal dari Allah, dan kembali kepada Allah  ilmu , amal , dan mal.

   Tiga macam tauhid yakni uluhiyah, rububiyah dan asma wa sifat adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan tersimpul dalam kalimat syahadat لاإله إلا الله yang berkonsekuensi:1. Mengenal hak-hak-Nya; yaitu hak untuk diibadahi, ditaati, dicintai dengan setinggi-tingginya cinta, berharap kepada-Nya, bergantung kepada-Nya, 2. Mengenal rububiyah-Nya yaitu bahwa Allah-lah yang menciptakan langit dan bu-mi serta seluruh alam semesta. Dialah yang memilikinya, yang mengaturnya dan yang berhak menakdirkan segala sesuatu yang terjadi dengan hikmah dan keadilan-Nya.3. Mengenal nama-nama, sifat-sifat dan per-buatan-Nya yakni menetapkan dengan keimanan dan keyakinan seluruh nama-nama dan sifat-sifat Allah yang tersebut dalam asma al-husna. Kita menetapkan nama dan sifat Allah dengan yakin bahwa Allah tidak sama dengan makhluk-Nya. لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ. ]الشورى: 11)

Hubungan Ilmu Tauhid dengan Ilmu Ushuluddin dan Ilmu Kalam
Ilmu Tauhid keesaan Tuhan
Ilmu ushuluddin : ilmu yang membahas tentang hal-hal pokok/prinsip dalam agama, seperti masalah ketuhanan (eksistensi, sifat dan perbuatan Tuhan), kemanusiaan (status mukmin, muslim, kafir dll.) 
I. Kalam (teologi Islam) : ilmu yang membahas tentang keyakinan-keyakinan umat Islam yang diekspresikan dalam pemikiran dan perbuatan, yang mewujud dalam berbagai aliran/mazhab, yang di dalamnya terjadi perdebatan dan perselisihan.
Konsep-konsep Dasar:Iman, Islam, Ihsan
Iman: keyakinan kepada Allah sebagai Tuhan yang esa dengan segala konsekuensinya
Islam: kepatuhan/ketaatan kepada hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya dengan segala konsekuensinya
Ihsan: ekspresi (pembuktian) komitmen terhadap keimanan dan keislaman yang tercermin dalam amal sholeh
Secara makro : Islam Iman Ihsan
Iman: keyakinan dalam hati, diungkapkan melalui lisan, diekspresikan dalam perilaku dan perbuatan
Rukun Iman: rangkaian keyakinan yang bersifat integratif dan generatif  (iman kepada:  (1) Allah, (2) Malaikat, (3) Kitab, (4) Rasul, (5) Hari Akhir, + (6) takdir
Mukmin: konsistensi dari hati, lisan dan perbuatan
         Mukmin  (keyakinan) muslim  (kepatuhan) muhsin (amal shalih)
Islam : ketaatan pada hukum Allah (ibadah dan muamalah) dengan melaksanakan syariatnya.
Ihsan: buah dari iman dan islam (output)



Hal-hal yang Merusak Tauhid (Akidah)
         Segala hal (perbuatan) yang merusak tauhid (akidah), bisa berupa perbuatan:
Kafir : pengingkaran terhadap kebenaran
         kafir i’tiqadi (tidak beriman)
         tidak taat (bukan islam)
Syirik : menyekutukan/meduakan Tuhan dengan yang lain
         syirk jali (terang-terangan)
                 syirk khafi (samar/tidak jelas)
.        Murtad : keluar dari iman dan islam (tidak beriman atas kerasulan Muhammad s.a.w. dan tidak mau menjalani syari’at islam
Fasik : perbuatan pelanggaran “berat” terhadap aturan hukum Allah, padahal ia mengaku beriman
Munafik : ketidaksetiaan, sikap mendua/ hipokrit atas keimanan dan keislamannya ketidak-sesuaian antara hati, lisan dan perbuatan.
Yang mengotori akidah:
maksiat: pembangkangan /ketidaktaatan kepada Allah misalnya : tidak mau shalat, puasa dll.
dosa : perbuatan melanggar hukum Allah

Cara membersihkan :yang mengotori akidah: bertaubat,
         beristghfar (meminta ampun kepada Allah)
               pengakuan dosa
               tidak mengulangi
               mengganti dengan amal shalih
Apakah itu Syirik Kecil (Syirk Ashghar) ?
Syirik kecil adalah riya', firman Allah:"Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Rabb-nya, hendaklah beramal shalih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Allah dengan sesuatu pun." (al-Kahfi: 110)Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kamu semua adalah syirik kecil (riya')." (HR.Ahmad, shahih)Termasuk syirik kecil, perkataan seseorang: "Kalau tidak karena Allah dan si anu atau kehendak Allah dan kehendakmu."Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Jangan berkata: "Jika Allah menghendaki dan si anu menghendaki"' tetapi katakanlah: "jika Allah menghendaki kemudian si anu menghendaki." " (HR.Abu Dawud: shahih)
Tiga macam tauhid yakni uluhiyah, rububiyah dan asma wa sifat adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Yang terkandung dalam kalimat syahadat لاإله إلا الله yang berkonsekuensi:1. Mengenal hak-hak-Nya; yaitu hak untuk diibadahi, ditaati, dicintai dengan setinggi-tingginya cinta, berharap kepada-Nya, bergantung kepada-Nya, 2. Mengenal rububiyah-Nya yaitu bahwa Allah-lah yang menciptakan langit dan bu-mi serta seluruh alam semesta. Dialah yang memilikinya, yang mengaturnya dan yang berhak menakdirkan segala sesuatu yang terjadi dengan hikmah dan keadilan-Nya.3. Mengenal nama-nama, sifat-sifat dan per-buatan-Nya yakni menetapkan dengan keimanan dan keyakinan seluruh nama-nama dan sifat-sifat Allah yang tersebut dalam asma al-husna. Kita menetapkan nama dan sifat Allah dengan yakin bahwa Allah tidak sama dengan makhluk-Nya. لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ. ]الشورى: 11[Tidak ada yang serupa dengan-Nya, dan Ia Maha Mendengar lagi maha Melihat. (asy-Syura: 11)
Ahlut tahrif, mereka menerima sifat يد (Tangan) bagi Allah tetapi mereka mengatakan bahwa يدmaknanya bukan ta-ngan tetapi kekuatan. Mereka menerima sifat غضب (marah) tetapi mereka mengatakan bahwa غضب maknanya bukan marah tetapi berkehendak untuk membalas. Dengan kata lain ahlul bid’ah tersebut menerima lafadznya tetapi menyimpangkan maknanya kepada makna-makna lain yang diistilahkan oleh Ibnu Taimiyah dengan “at-tahrif”.Ahlu tafwid yang tidak mau menterjemahkan makna dari lafadz-lafadz tersebut dan menyatakan bahwa Allah memiliki يد tapi kami tidak tahu mak-nanya; Allah memiliki sifat غضب. Tetapi kami tidak tahu maknanya, kami serahkan semua-nya kepada Allah. Dan mereka tidak mau mengartikan يد dengan tangan dan غضب dengan marah.
Tanpa menanyakan bagaimananya.
 (seperti apa atau bagaimana) adalah pintu setan. Sedemikian berbahayanya pintu takyif sampai-sampai para ulama bersikap keras kepada mereka yang memiliki pikiran-pikiran usil dan kotor. Tercatat di antaranya Imam Malik bin Anas, pemilik Kitab Al-Muwatha’, menunjukan rasa marahnya saat seseorang bertanya –tepatnya mempertanyakan—bagaimana istiwanya Allah di atas arsy-Nya.
Beliau rahimahulllah menjawab: اْلإِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ، وَاْلإِيْمَانُ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ. وَمَا أَدْرَاكَ إِلاَّ ضَالاًّ وَأُمِرَ بِهِ أَنْ يُخْرَجَ مِنْ مَجْلِسِهِ. al-Istiwa’ adalah bukan (kalimat) yang asing, kaifiyah (bagaimana istiwa’nya Allah)nya adalah tidak mungkin diketahui, beriman terhadapnya adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Tidaklah aku melihat engkau kecuali orang yang sesat.
Dalam beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah, kita harus memenuhi syarat-syarat berikut:1. Menerima lafadz dengan maknanya secara dhahir.2. Tanpa tahrif (penyimpangan makna).3. Tanpa ta’thil (penolakan sebagian maupun keseluruhan).4. Tanpa tafwidh (tidak mau menerjemahkannya secara dhahir dengan alasan me-nyerahkannya kepada Allah).5. Tanpa tasybih atau tamtsil, yaitu tidak menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.6. Tanpa Takyif, yaitu tidak menanyakan se-perti apa dan bagaimananya.
AKAL DAN WAHYU
Akal: petensi berfikir yang diberikan oleh Allah kepada manusia sebagai penyeimbang dari al-masyiah (kehendak) dan al-istitha’ah (potensi/kemampuan berbuat)
Akal al-ra’yu (pendapat)  nalar
Akal sebagai pembeda manusia dengan makhluk lain yang berakibat manusia dikenai beban (tanggung jawab)
Wahyu: suatu pemberian Allah kepada rasul-Nya untuk disampaikan kepada manusia sebagai pedoman/sumber aturan (syari’at) yang bersifat “pasif” berfungsi ketika dipahami oleh akal manusia.    
Perbedaan Akal dan Wahyu
Akal
Wahyu
Bersifat personal/pribadi
Bersifat komunal/masyarakat
Relatif kebenarannya
Mutlak kebenarannya
Bersifat Aktif
Bersifat Pasif
Parsial
Universal
Bisa berubah-ubah
Tidak berubah oleh perubahan zaman
Bersumber pada manusia
Bersumber dari Tuhan




Otorotas Akal dan Waktu

Akal
Wahyu
spekulatif
otoritatif
Mampu mengetahui Tuhan
Mengetahui Tuhan
Mengetahui Baik dan Buruk
Mengetahui baik-buruk
Mengetahui kewajiban
Mengetahui cara berterima kasih kepada Tuhan
Mengetahui cara berterima kasih kepada Tuhan
Mengetahui cara berterima kasih pada Tuhan
Memahami wahyu
Sumber bagi akal






Tidak ada komentar:

Posting Komentar